Info Jaro – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sabu Raijua mencatat sebanyak 8 kasus HIV/AIDS ditemukan di wilayah tersebut hingga September 2025. Angka ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah maupun masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit mematikan tersebut.
Tren Kasus Terus Diawasi
Kepala Dinas Kesehatan Sabu Raijua menjelaskan bahwa jumlah ini diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan rutin serta pelaporan fasilitas layanan kesehatan. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak daerah lain di NTT, kasus HIV/AIDS tetap dianggap mengkhawatirkan.
“Delapan kasus ini bukan angka kecil bagi Sabu Raijua yang jumlah penduduknya relatif sedikit. Kami harus tetap waspada agar tidak terjadi penambahan signifikan,” ujarnya.
Faktor Risiko dan Tantangan
Menurut Dinkes, faktor risiko penularan di antaranya perilaku seksual berisiko tanpa pengaman, rendahnya kesadaran masyarakat akan tes HIV, serta stigma sosial yang masih kuat sehingga sebagian warga enggan memeriksakan diri.
Selain itu, tantangan geografis di Sabu Raijua yang berupa wilayah kepulauan juga membuat akses layanan kesehatan tidak selalu mudah dijangkau. Hal ini berdampak pada keterlambatan deteksi dini maupun pengobatan.

Baca juga: Dugaan Biang Kerok Air Kali di Serpong Berwarna Merah
Upaya Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua melalui Dinkes telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan, di antaranya:
-
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, tentang bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahannya.
-
Peningkatan akses layanan tes HIV secara gratis di puskesmas dan rumah sakit daerah.
-
Pemberian terapi ARV (antiretroviral) bagi pasien yang terdeteksi positif agar kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.
“Kami terus mendorong agar masyarakat berani melakukan tes HIV. Lebih cepat terdeteksi, lebih mudah pula penanganannya,” tambah Kepala Dinkes.
Ajakan untuk Menghapus Stigma
Salah satu hambatan utama dalam penanganan HIV/AIDS adalah stigma negatif terhadap penderita. Hal ini membuat banyak orang memilih untuk menutup diri.
Aktivis kesehatan di Sabu Raijua menekankan pentingnya dukungan sosial bagi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). “Mereka butuh diterima, bukan dijauhi. Kalau didiskriminasi, justru mereka enggan berobat, dan itu bisa memperburuk keadaan,” ujarnya.
Harapan ke Depan
Dengan catatan 8 kasus hingga September 2025, Pemkab Sabu Raijua berharap sinergi antara pemerintah, tenaga medis, organisasi masyarakat, dan tokoh agama bisa semakin diperkuat. Upaya kolektif dianggap penting untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
“Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Kami berharap warga semakin sadar dan aktif menjaga diri serta lingkungan dari ancaman HIV/AIDS,” pungkas Kepala Dinkes.
















