Info Jaro – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sekitar 300 orang telah dievakuasi menyusul letusan Gunung Semeru yang terjadi baru-baru ini. Pihak berwenang menegaskan bahwa langkah evakuasi dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari guguran lava, abu vulkanik, dan hujan lahar yang berpotensi membahayakan warga di kawasan sekitar.
Letusan Terjadi Pagi Hari
Letusan Gunung Semeru terjadi pada pagi hari, mengeluarkan kolom abu vulkanik setinggi ratusan meter dan aliran material panas yang bergerak di beberapa sektor lereng gunung. BNPB menyebut aktivitas vulkanik ini meningkat dalam beberapa hari terakhir, sehingga status gunung tetap Siaga (Level III).
“Letusan semalam dan pagi ini menyebabkan masyarakat di lereng rawan harus segera dievakuasi,” ujar Kepala BNPB dalam keterangan pers.
Warga terdampak diimbau untuk menjauhi radius berbahaya minimal 5 kilometer dari kawah dan mengikuti arahan petugas evakuasi.
Evakuasi Terfokus di Desa-desa Sekitar Lereng
Proses evakuasi difokuskan pada beberapa desa yang berada di sekitar lereng Semeru, termasuk Desa Sumberwuluh, Supiturang, dan Curah Kobokan. Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan desa bekerja sama mengevakuasi warga ke tempat aman seperti balai desa dan pos pengungsian sementara.
Sejumlah warga sempat menolak evakuasi karena ingin menjaga harta benda, namun petugas secara persuasif meyakinkan agar mereka mengikuti prosedur demi keselamatan.
“Keselamatan manusia adalah prioritas utama. Kami terus menghimbau warga untuk meninggalkan lokasi rawan,” tambah perwakilan BPBD Lumajang.
Dampak Abu dan Lahar Hujan
Selain potensi bahaya lava panas, letusan Semeru juga mengakibatkan hujan abu yang menutupi permukiman dan sawah warga. Abu vulkanik mengganggu pernapasan dan visibilitas, sehingga warga diminta menggunakan masker atau kain penutup mulut saat berada di luar pengungsian.

Baca juga: Prabowo Puji Sultan HB X Tampak Lebih Muda: Saya Kira Kapten Pasukan Khusus
BPBD juga mencatat adanya aliran lahan hujan di beberapa sungai yang berhulu di lereng Semeru. Lahar tersebut berpotensi menimbulkan banjir material dan merusak infrastruktur lokal.
Pusat Krisis dan Koordinasi Tanggap Darurat
BNPB dan BPBD telah menyiapkan posko tanggap darurat 24 jam untuk memonitor perkembangan aktivitas gunung serta kebutuhan pengungsi. Distribusi logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan juga dilakukan secara cepat ke lokasi pengungsian.
“Koordinasi kami dengan aparat desa dan relawan sangat penting untuk memastikan semua warga mendapat bantuan,” jelas Kepala BNPB.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan tidak kembali ke kawasan rawan hingga kondisi gunung dinyatakan aman. Semua aktivitas di dalam radius bahaya, termasuk pertanian dan pemukiman, dihentikan sementara untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Pihak berwenang juga mengimbau warga untuk mengikuti informasi resmi dari BNPB dan pemerintah daerah, serta tidak menyebarkan isu yang belum diverifikasi yang bisa menimbulkan kepanikan.
Pemantauan Aktif Aktivitas Gunung
Seismograf dan sensor gas dipasang di lereng gunung untuk memantau aktivitas vulkanik secara real-time. Hasil pemantauan akan menjadi dasar pengambilan keputusan terkait evakuasi lanjutan dan status gunung.
BNPB menegaskan kesiapan tim tanggap bencana untuk merespons segala kemungkinan, termasuk jika terjadi letusan susulan.
“Tim kami siap 24 jam untuk mengamankan warga dan mengevakuasi lebih banyak orang jika diperlukan,” tegas Kepala BNPB.
















