Gue pernah ngalamin ini waktu pulang ke kampung halaman. Ada tetangga yang buru-buru dateng ke rumah, muka panik, sambil nunjukin layar HP. "Lihat ini! Katanya sembako mau naik semua minggu depan!" Gue lihat judulnya doang, gede-gede, huruf kapital semua, ada tanda seru tiga biji. Tapi pas gue scroll ke bawah, ternyata itu berita lama dari dua tahun lalu yang diputar ulang sama akun gak jelas.
Nah, dari situ gue sadar satu hal: masalahnya bukan warga desa gak mau baca berita. Masalahnya, cara baca kita sering keliru. Dan itu wajar banget, soalnya gak ada yang ngajarin.
Pertama: Berhenti di Judul, Padahal Isinya Beda Cerita
Ini kesalahan nomor satu yang paling sering gue temuin. Kita lihat judul, langsung percaya, langsung share ke grup WA keluarga. Padahal judul berita itu tugasnya mancing rasa penasaran, bukan merangkum semuanya. Banyak judul sengaja dibikin lebih "heboh" dari isi aslinya.
Baca juga: MK Tak Dapat Terima Permohonan Andrie Yunus Jadi Pihak Terkait Peradilan Militer
Coba deh biasain diri baca minimal dua paragraf pertama. Kalau judulnya bilang "Harga Beras Naik Drastis", biasanya di paragraf kedua ada penjelasan "naik di pasar tertentu, sementara di daerah lain stabil". Beda kan rasanya? Yang tadinya panik, jadi biasa aja.
Judul itu pintu masuk. Tapi kamu gak tinggal di teras rumah, kan? Masuk dulu, lihat isinya.
Kedua: Gak Cek Sumber, Asal Percaya Akun Random
Di kampung, berita sering datang dari grup WA yang isinya tetangga sendiri. Bukan berarti mereka bohong, tapi kadang mereka juga cuma nerusin pesan yang mereka terima. Namanya juga rantai pesan, makin panjang makin melenceng.
Sebelum percaya, cek dulu: ini dari media apa? Ada nama penulisnya? Tanggal terbitnya kapan? Kalau situsnya gak jelas, gak ada redaksi, gak ada alamat kantor, mending curiga. Media beneran biasanya punya halaman "Tentang Kami" yang isinya jelas.
Gue sendiri punya kebiasaan simpel: kalau dapat berita mengejutkan, gue buka Google dan ketik judulnya. Kalau cuma satu situs yang nulis, sementara yang lain gak ada, berarti berita itu belum tentu benar. Tapi kalau banyak media kredibel nulis hal serupa, baru deh gue percaya.
Cara cepat cek sumber tanpa ribet
- Lihat nama domainnya, kalau aneh dan gak familiar, hati-hati
- Cek tanggal, berita lama sering diputar ulang biar keliatan baru
- Cari nama penulisnya, media serius biasanya cantumin nama
- Bandingkan dengan satu atau dua media lain
Ketiga: Baca Berita Sambil Emosi, Akhirnya Stres Sendiri
Ini yang gue alami sendiri beberapa tahun lalu. Gue baca berita bencana, terus berita kriminal, terus berita ekonomi yang bikin cemas. Ujungnya gue gak bisa tidur, padahal gak ada yang bisa gue lakuin soal berita itu. Capek, kan?
Yang perlu kita sadari, gak semua berita harus kita konsumsi. Ada berita yang penting buat kita, ada yang cuma bikin panik. Buat warga desa yang sehari-harinya ngurus sawah, warung, atau kerja di kota terdekat, berita yang relevan ya seputar harga kebutuhan pokok, cuaca, kebijakan desa, atau info transportasi. Sisanya? Boleh dibaca, tapi jangan sampai bikin hati berat.
Gue biasanya kasih batas waktu. Pagi baca berita 10 menit, sore 10 menit. Setelah itu tutup HP, lanjut hidup. Kalau ada berita penting, pasti ada yang ngasih tahu kok, entah tetangga atau keluarga.
Keempat: Gak Pernah Nanya "Ini Beneran Gak Sih?"
Ini kelihatan sepele, tapi efeknya besar. Sebelum share apa pun ke grup keluarga, tanya dulu ke diri sendiri: ini beneran gak sih? Kalau ragu, jangan diterusin. Prinsip gue simpel, lebih baik telat tahu daripada nyebarin yang salah.
Ingat, satu pesan hoaks yang kita terusin bisa bikin satu kampung panik beli sembako berlebihan. Gue pernah lihat sendiri kejadian kayak gitu. Warung kosong dalam sehari, padahal stoknya cukup. Semua gara-gara satu pesan berantai yang gak dicek.
Jadi ya, mulai sekarang biasain baca berita dengan kepala dingin. Jangan buru-buru percaya, jangan buru-buru share. Baca sampai habis, cek sumbernya, dan tanya ke diri sendiri apakah ini beneran penting buat kita. Kalau iya, baru bagikan. Kalau ragu, diam itu lebih aman.
Berita itu alat, bukan sumber kepanikan. Kita yang pegang kendali, bukan sebaliknya.