Info Jaro – Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali dipenuhi berbagai peristiwa menarik dalam sepekan terakhir. Mulai dari penyelenggaraan Tourism and Economy Festival (TEF) 2025) yang semarak, hingga kabar naiknya harga cabai Hiyung di Pasar Tapin yang membuat pedagang dan warga heboh. Berikut rangkuman peristiwa penting di Kalsel kemarin.
TEF 2025, Ajang Promosi Ekonomi dan Wisata Banua
Kegiatan Tourism and Economy Festival (TEF) 2025) sukses digelar di Banjarbaru dengan melibatkan lebih dari 80 pelaku usaha pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.
Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor atau yang akrab disapa Paman Birin, dalam sambutannya menegaskan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan kunci pertumbuhan ekonomi daerah pasca-pandemi.
“TEF ini bukan sekadar pameran, tapi ajang membangun jejaring antar pelaku usaha agar potensi daerah makin dikenal luas. Kita ingin Kalsel menjadi tujuan wisata unggulan di Kalimantan,” ujar Paman Birin saat membuka acara.
Berbagai atraksi budaya, pameran produk khas daerah, hingga pertunjukan musik lokal memeriahkan festival yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Pariwisata Kalsel tersebut.
Pelaku UMKM yang ikut serta mengaku mendapatkan peningkatan penjualan selama acara berlangsung. Beberapa di antaranya bahkan menjalin kerja sama distribusi produk dengan mitra dari luar daerah.
Harga Cabai Hiyung Naik, Pedagang dan Pembeli Sama-sama Waspada
Sementara itu, kabar dari Kabupaten Tapin menarik perhatian publik: harga cabai Hiyung, cabai khas Tapin yang dikenal sebagai “cabai terpedas di Indonesia”, melonjak tajam di pasar tradisional.
Dalam sepekan terakhir, harga cabai Hiyung tembus hingga Rp130.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang berkisar di Rp85.000–Rp90.000 per kilogram.
Menurut keterangan Kepala Dinas Perdagangan Tapin, kenaikan harga ini dipicu oleh menurunnya hasil panen akibat cuaca ekstrem dan tingginya permintaan dari luar daerah menjelang akhir tahun.
“Stok di tingkat petani menurun karena beberapa lahan tergenang air. Tapi permintaan tetap tinggi, terutama dari daerah tetangga seperti Banjarmasin dan Balikpapan,” jelasnya.
Pedagang berharap harga bisa segera stabil karena lonjakan ini mulai berdampak pada daya beli masyarakat. Meski begitu, sebagian warga mengaku tetap membeli karena cabai Hiyung sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner Banua.
“Pedasnya cabai Hiyung tidak bisa digantikan. Walau mahal, tetap dicari,” ujar Rahmawati, warga Rantau.

Baca juga: Pemerintah turunkan harga pupuk bersubsidi 20 persen
Pemprov Siapkan Langkah Antisipasi Inflasi
Merespons kenaikan harga bahan pangan, Pemprov Kalsel melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera menggelar rapat koordinasi bersama dinas perdagangan dan pertanian kabupaten/kota.
Sekretaris Daerah Kalsel Roy Rizali Anwar menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi berupa gelar pasar murah, operasi pangan, dan fasilitasi distribusi hasil panen antarwilayah.
“Inflasi harus dijaga agar tetap stabil. Kita terus memantau komoditas strategis seperti beras, cabai, dan bawang agar tidak mengganggu keseimbangan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia juga menambahkan, pemerintah daerah akan terus memperkuat kerja sama dengan kelompok tani agar stok kebutuhan dapur tetap aman hingga akhir tahun.
Kalsel Terus Bergerak untuk Banua Lebih Maju
Selain dua peristiwa besar itu, Kalsel juga diwarnai dengan berbagai kegiatan sosial dan pembangunan di daerah — mulai dari peresmian jembatan penghubung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan hingga pelatihan wirausaha muda di Banjarmasin.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan terus bergerak menuju kemajuan, dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Gubernur Paman Birin menegaskan, semua upaya tersebut adalah bagian dari visi besar untuk menjadikan Kalsel sebagai gerbang ekonomi Kalimantan yang mandiri, berdaya saing, dan berbudaya.
“Dari pariwisata, pertanian, hingga industri kecil, semua harus saling mendukung. Kita ingin Banua maju bersama tanpa meninggalkan kearifan lokal,” tegasnya.
















